Bagaimana Caranya Menghapus Foto Auto Back Up Picasa di HP Android

Posted on Updated on

Untuk Anda paara pengguna Android, pastinya sudah akrab dengan fitur Auto Back Up yang dimiliki sistem operasi besutan Google ini. Fasilitas auto back up ini merupakan salah satu fitur yang disematkan Google dimana tujuannya adalah untuk menjamin keamanan data-data Anda jika sewaktu-waktu hilang akibat memori rusak, install ulang sistem operasi, HP di reset, serta hal-hal lain yang bisa mengakibatkan hilangnya data. Salah satu data yang di back up oleh Android adalah foto dan gambar. Namun, banyak dari pengguna Android yang terkadang kebingungan karena tidak bisa menghapus file foto atau gambar auto back up di masing-masing smartphonenya. Nah, disini saya akan berbagi trik kepada Anda untuk Menghapus Foto Auto Back Up di HP Android.

Bagaimana Caranya Menghapus Foto Auto Back Up di HP Android

Kesulitan pengguna yang masih awan untuk menghapus foto di auto back up Android bisa dimaklumi karena file tersebut sebenarnya di back up secara online, alias tersimpan di server Google, atau lebih tepatnya di akun Google Picasa Anda. Sehingga, penjelasan simpel untuk menghapus foto Auto Back Up Anda adalah dengan cara masuk ke situs picasaweb.google.com, login dengan akun Google Anda (yang juga akun Android Anda), maka akan terlihat foto-foto dan gambar milik Anda, dari sini silahkan pilih foto mana yang mau Anda hapus.

Namun, jika Anda ingin penjelasan lebih detail atau masih mengalami masalah, seperti foto yang sudah dihapus tetap mucul lagi, simak terus artikel ini.

Sebenarnya, Anda juga bisa memilih untuk tidak menampilkan foto-foto dari Google Picasa di gallery dengan memilih: Menu –> Content to Display –> Lalu uncheck menu “Content in Picasa”.

Ok, sekarang langsung saja kita bahas detail mengenai cara menghapus foto Auto Back Up di smartphone Android Anda yang saya kutip dari android.appstorm.net

1. Stop Sinkronisasi Picasa Web Album
Masuk ke pengaturan Smartphone Android Anda, cari menu Account lalu klik pada Akun Google. Pilih Alamat email Anda, lalu jangan centang pilihan “Sync Picasa Web album”

Bagaimana Caranya Menghapus Foto Auto Back Up di HP Android
Perlu diingat bahwa menghentikan sinkronisasi tidak akan mempengaruhi Google+ Instant Upload untuk foto, dan tidak menghapus gambar Picasa Anda yang ada di server Google. Hal ini hanya akan menghentikan sinronisasi foto-foto di Album Picasa dengan smartphone, atau dengan kata lain foto-foto baru di Picasa tidak akan lagi dimunculkan di gallery Smartphone Anda.

2. Bersihkan Data di Gallery
Sekarang, Picasa sudah tidak disinkronisasikan lagi ke smartphone Anda, album atau foto baru tidak akan dimunculkan lagi. Namun, foto-foto dari sinkronisasi sebelumnya tentu masih ada di Gallery Anda, itulah mengapa Anda perlu menghapus dan membersihkan file-file ini.

Masuk ke menu Setting –> Application manager lalu swipe ke tab ketiga (All), scroll ke bawah menuju Gallery, lalu klik Gallery tersebut. Disana, Anda dapat menghapus data yang Anda inginkan.

Bagaimana Caranya Menghapus Foto Auto Back Up di HP Android

3. Refresh Gallery
Anda cukup membuka Gallery Anda untuk melakukan hal ini, dan menunggu Gallery untuk me-refresh dan membangun thumbnail foto-foto Anda kembali. Jika koleksi foto Anda sedikit, maka prrosesnya akan cepat, namun jika Anda memiliki koleksi foto yang cukup banyak, maka Anda harus sedikit lebih sabar menunggu.

Bagaimana Caranya Menghapus Foto Auto Back Up di HP Android

Ok, itu tadi ketiga langkah yang bisa Anda lakukan untuk menghapus foto auto back Up di perangkat Android kesayangan Anda. Cukup mudah bukan? Sekarang gallery Anda tidak “dikotori” lagi oleh foto-foto dari Picasa yang bisa menggangu Anda.

Anda juga tetap bisa melihat foto-foto di Picasa dengan mengakses Google+ terlebih dahulu.

Belajar Yii dari dasar bagian 1

Posted on Updated on

Kali ini saya ingin membuat sebuah aplikasi web sederhana.😛 Aplikasi ini hanya sebatas untuk media sharing Aplikasi.

Selidik punya selidik ternyata Yii ini full OOP tidak seperti CI yang masih bisa procedural, dan lagi Yii hanya support PHP 5. Tapi sayangnya dokumentasi sekelas user guide CI tidak ada di Yii, dan ini sangat menyulitkan saya sebagai pemula. Menurut saya dokumentasi milik Yii sangat sulit dipahami. Ditambah lagi ebook yang saya temukan tidak banyak, hanya satu dan itupun berbahasa Inggris. Perjuangan memang tidak mudah..😀

Untuk yang belum tau Yii itu apa, saya rasa bisa cari sendiri lewat Google atau langsung menuju TKP (situs resmi Yii). Posting kali saya ingin langsung bahas tentang instalasi Yii yang saya coba di server lokal dengan AMPPS. Lagi-lagi perkara tentang AMPPS bisa dicari sendiri karena saya malas menulisnya.😀

Langsung saja, pertama kita download dahulu Yii dari localhost/ampps.. pilih menu Framework.. di situ banyak pilihan framework yang sudah disediakan oleh AMPPS, tinggal dipilih mana yg disuka.. tapi kali ini kita pilih yii.. dan yang disediakan oleh AMPPS adalah Framework Yii versi 1.1.5. Setelah download maka intalasinya akan otomatis. jadi hanya tinggal tunggu sebentar. Webroot dari Ampps ialah www, dan pastikan ada folder bernama framework. Folder hasil ekstraksi adalah Yii. bisa dilihat di windows explorer C:/Ampps/www/yii.

Sebenarnya framework Yii bisa diinstall dimana saja tidak harus di webroot, karena kita tidak mengakses Yii secara eksplisit melainkan kita membuat sebuah skeleton dari framework Yii. Skeleton ini adalah sebuah aplikasi yang kita ingin develop dan akan di-generate otomatis dengan memanfaatkan framework Yii. Dengan kata lain dengan satu kali instalasi, kita bisa generate banyak skeleton, hebat bukan.😀

Sebelumnya ada baiknya kita cek dahulu apakah spesifikasi komputer dalam hal ini web server kita memenuhi spesifikasi minimum yang dibutuhkan Yii. Untuk mengeceknya dengan mengetikkan url  http://localhost/yii/requirements/index.php di browser. Hasil yang saya dapat seperti gambar dibawah ini :

yii2

Ok, sekarang bagaimana caranya kita generate skeleton dari aplikasi kita? Untuk membuat skeleton kita memanfaatkan tool yiic dari Yii yang sudah include dalam instalasi. Yiic ini adalah tool command line, jadi kita perlu command prompt. Bentuk umum  dari perintah dasar untuk membuat skeleton baru dengan  yiic yaitu sebagai berikut :

path/to/php  /www/yii/framework/yiic  webapp  /www/applicationname

mari kita coba bedah satu persatu perintah diatas. Segmen  path/to/php ini adalah path ke folder bin dari php, karena kita butuh php.exe dan di ampps biasanya ada di folder ampps/php. Kemudian segmen /www/yii/framework/yiic  berarti path dari lokasi yiic hasil instalasi Yii. Segmen  webapp merupakan parameter dari tool yiic yang berarti build new webapp atau buat aplikasi (skeleton) baru. Segmen terakhir, yaitu /www/applicationname  adalah path folder dari aplikasi kita.

Kebetulan saya install ampp di drive C, maka bisa kita simpulkan perintah yang kita pakai di command line yaitu sebagai berikut :

C:\ampps\php\php.exe C:\ampps\www\yii\framework\yiic  webapp  C:\ampps\www\projek1

Loh, kenapa pakai “\” bukan “/” seperti di bentuk umum? Jelas karena di windows, command prompt memakai backslash “\” sebagai pemisah direktori untuk path.😛

Jika perintah benar maka akan ada prompt seperti ini :

Create a Web application under ‘C:\ampps\www\projek1’? [Yes|No] y

Pilih Y/Yes terserah anda, dan yiic akan meng-generate skeleton aplikasi kita dan akan ditampilkan pula struktur direktori beserta file-nya seperti dibawah ini :

mkdir C:/ampps/www/projek1

mkdir C:/ampps/www/projek1/assets

mkdir C:/ampps/www/projek1/css

generate css/bg.gif

generate css/form.css

generate css/ie.css

generate css/main.css

generate css/print.css

generate css/screen.css

mkdir C:/ampps/www/projek1/images

generate index-test.php

generate index.php

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected

generate protected/.htaccess

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/commands

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/commands/shell

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/components

generate protected/components/Controller.php

generate protected/components/UserIdentity.php

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/config

generate protected/config/console.php

generate protected/config/main.php

generate protected/config/test.php

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/controllers

generate protected/controllers/SiteController.php

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/data

generate protected/data/schema.mysql.sql

generate protected/data/schema.sqlite.sql

generate protected/data/testdrive.db

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/extensions

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/messages

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/models

generate protected/models/ContactForm.php

generate protected/models/LoginForm.php

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/runtime

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/tests

generate protected/tests/bootstrap.php

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/tests/fixtures

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/tests/functional

generate protected/tests/functional/SiteTest.php

generate protected/tests/phpunit.xml

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/tests/report

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/tests/unit

generate protected/tests/WebTestCase.php

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/views

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/views/layouts

generate protected/views/layouts/column1.php

generate protected/views/layouts/column2.php

generate protected/views/layouts/main.php

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/views/site

generate protected/views/site/contact.php

generate protected/views/site/error.php

generate protected/views/site/index.php

generate protected/views/site/login.php

mkdir C:/ampps/www/projek1/protected/views/site/pages

generate protected/views/site/pages/about.php

generate protected/yiic

generate protected/yiic.bat

generate protected/yiic.php

mkdir C:/ampps/www/projek1/themes

mkdir C:/ampps/www/projek1/themes/classic

mkdir C:/ampps/www/projek1/themes/classic/views

generate themes/classic/views/.htaccess

mkdir C:/ampps/www/projek1/themes/classic/views/layouts

mkdir C:/ampps/www/projek1/themes/classic/views/site

mkdir C:/ampps/www/projek1/themes/classic/views/system

Your application has been created successfully under C:\ampps\www\projek1

Setelah itu kita coba tes menggunakan browser dengan alamat url http://localhost/projek1/index.php. Ternyata Yii langsung memberikan kita beberapa halaman seperti Home, About, Contact, Login, validasi, javascript dan lain sebagainya. Terlebih lagi Login sudah bisa berfungsi dengan akun admin/admin atau demo/demo.

yii

Memahami Dasar Controller dan view di Framework Laravel (Laravel-3)

Posted on

Setelah belajar routing laravel di tutorial Belajar Dasar Routing Framework Laravel . Selanjutnya belajar memahami cara kerja controllers dan views di Framework Laravel. Bagaimana cara kerja antara routing, controller, view dan model.  Sebelumnya kita harus tau konsep MVC, M adalah Model , Model digunakan untuk query atau proses mengambil data dari databas. V adalah View, View digunakan untuk tampilan user berupa html, css, js dan data yang bersifat client. Sedangkan C adalah Controller yang digunakan untuk mangatur atau menjembatani antara model dan view atau bisa digunakan untuk mengatur alur program. Berikut ini gambar dari MVC.

Gambaran Tentang Konsep MVC

Di tutorial kali ini kita akan hanya membahas Controller dan View. Dari belajar routing sebelumnya kita akan menggabungkan dengan controller dan view. Jika belum silahkan lihat tutorial Asyiknya, Belajar Dasar Routing Framework Laravel. Untuk persiapan buka file routes.php anda dan didalam folder controllers buat file dengan nama ProfileController.php. Setelah itu ProfileController.php isi dengan code berikut :

1
2
3
4
5
6
< ?php
class ProfileController extends BaseController {
}
//Untuk spasi diantara tanda < dan ? silahkan dihapus

Basic Controllers ( Dasar Controller )

Dasar controller ini adalah bagaimana cara secara dasar kita dapat menjalankan controller tersebut dengan bantuan route. Apakah anda masih ingat code dibawah ini terletak dimana ?

1
2
3
4
Route::get('/',function()
{
    return'Ini Contoh Halaman Home';
});

Yapz.. , code ini terletak di file routes.php dan apa hubungannya, seperti yang kita jelaskan sebelumnya dimateri routing , routing digunakan untuk menentukan uri atau format url. Lah ketika kita belajar routing sebelumnya string Ini Contoh Halaman Home berada dirouting itu sendiri, bayangkan jika didalam method / fungsi Route::get(‘/’,function() Ini sampai puluhan atau sampai ratusan baris apa kita tidak pusing melihatnya belum lagi ditambah fungsi – fungsi yang lainnya. Maka dari itu controller ini berfungsi memecah code itu sendiri. Bagaimana caranya agar fungsi – fungsi puluhan bahkan ratusan itu kita pindah ke controller. Lihat code sederhana dibawah ini.

1
2
3
4
Route::get('/',function()
{
    return'Ini Contoh Halaman Home';
});

Code diatas silahkan di ganti dengan code dibawah ini.

1
Route::get('/', 'ProfileController@index');

Dan di ProfileController.php sebelumnya yang telah kita buat tambahkan code berikut ini.

1
2
3
4
public function index()
{
    return'Ini Contoh Halaman Home';
}

Hasilnya di ProfileController.php menjadi seperti ini

1
2
3
4
5
6
7
8
class ProfileController extends BaseController {
    
    public function index()
    {
    return'Ini Contoh Halaman Home';
    }
    
}

Sekarang penjelasan dari code didalam routes.php yang telah diganti sebelumnya

1
Route::get('/', 'ProfileController@index');

Route::get adalah method digunakan untuk digunakan untuk menampilkan view maupun data.

Tanda ‘/’, menunjukan route yang di definisikan atau dibuat untuk route utama atau halaman utama contoh seperti seputarpmrograman.com bukan seputarpmrograman.com/tutorial-laravel.

ProfileController , adalah nama file ataupun class controller.

index , adalah method atau fungsi yang berada di controller.

Untuk mencoba menajalankan program sama seperti sebelumnya ketikan url seperti ini

1
http://localhost/laravelmaster/   atau   http://belajarlaravel.com

Hasilnya pun sama seperti tutorial routing, Itu adalah Cara Dasar menggunakan Controller.

 

Controller Dengan Route Parameters

Tutorial diatas adalah cara menggunakan controller secara dasar, sekarang bagaimana jika kita parsing atau mengirim parameter di controller seperti yang dilakukan di routing.

Rubah code dibawah ini yang berada di routes.php

1
2
3
4
Route::get('profile/{nama}',function($nama)
{
    return'Profile Nama : '.$nama;
});

Menjadi

1
Route::get('profile/{nama}', 'ProfileController@profile');

Dan didalam controller file ProfileController.php tambah fungsi berikut ini dibawah fungsi index.

1
2
3
4
public function profile($nama)
{
    return'Profile Nama : '.$nama;
}

Keterangan code :

Route::get(‘profile/{nama}’, ‘ProfileController@profile’);

profile/{nama}, menunjukan route yang di definisikan. {nama} adalah parameter.

ProfileController , adalah nama file ataupun class controller.

profile , adalah method atau fungsi yang berada di controller.

public function profile($nama) . adalah sebuah fungsi bernama profile yang menangkap sebuah parameter dengan variabel nama.

return’Profile Nama : ‘.$nama; , mengembalikan nilai dari parameter nama.

Untuk menjalankannya juga masih sama seperti tutorial sebelumnya.

1
http://localhost/laravelmaster/profile/AgizYL  atau  http://belajarlaravel.com/profile/AgizYL

Hasilnya pun juga sama.

 

Kolaborasi antara view dan Controller

Setelah membahas cara kerja controller bagaimana kita menggabungkan view dengan controller. Sebelumnya di folder views buatlah sebuah file bernama profile.php isikan code berikut :

1
2
3
Profile ID / Nama : < ?php echo $id; ?> / < ?php echo $nama; ?>
//Untuk spasi diantara tanda < dan ? silahkan dihapus

Lalu di controller, ProfileController.php tambah fungsi berikut dibawah fungsi profileview.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
public function profileview($id,$nama)
    {
    
    $data =
    
    [
    
    'id' => $id, // Menyimpan nilai dari variable id ke dalam array
    
    'nama' => $nama // Menyimpan nilai dari variable nama ke dalam array
    
    ];
    
    return View::make('profile',$data); // Parsing data ke dalam view lalu ditampilkan.
    
}

Dan yang terakhir ganti code didalam routes.php ini

1
2
3
4
Route::get('profile/{id}/{nama}',function($id, $nama)
{
    return'Profile ID / Nama : '.$id.' / '.$nama;
});

Menjadi seperti ini

1
Route::get('profile/{id}/{nama}', 'ProfileController@profileview');

Keterangan code :

$data =

[

                            ‘id’ => $id, // Menyimpan nilai dari variable id ke dalam array

                            ‘nama’ => $nama // Menyimpan nilai dari variable nama ke dalam array

];

Code diatas adalah menyimpan nilai dari variabel id dan nama kedalam variabel data berbentuk array.

return View::make(‘profile’,$data); , digunakan untuk memanggil atau menampilkan file di folder views dan data. ‘profile’ disini adalah nama file yang berada didalam folder views. $data adalah data berbentuk array yang dikirim ke dalam view atau profile.php di folder views.

 

Catatan : tutorial diatas hanya dasar atau sebagian kecil dari materi controller dan view. Tapi tutorial diatas sudah lebih dari cukup untuk mengenal atau memahami laravel, setelah paham tutorial diatas anda dapat belajar lebih dalam lagi di laravel.com. Tujuan tutorial ini hanya untuk mengenalkan saja tidak semua dibahas disini. Untuk tentang model akan kita bahas di tutorial CRUD laravel.

Asyiknya, Belajar Dasar Routing Framework Laravel (laravel – 2)

Posted on Updated on

Pada tutorial laravel tahap kedua ini kita akan membahas routing di framework laravel. Dari judul artikel atau tutorial ini ” Asyiknya,  Belajar Dasar Routing Framework Laravel”, mengapa saya menyebutkan asyik belajar routing. Dengan routing secara sederhananya kita dapat menuliskan atau mensetting nama url website yang akan kita bangun. contohnya saja http://www.belajarlaravel.com/{uri maupun parameter yang kita inginkan}.
Dalam routing kita akan mengenal yaitu GET dan POST, pastinya sudah tidak asing lagi bagi yang terbiasa belajar atau membuat website. Secara gamblang kita bisa melihat perbedaannya, GET data dan parameter akan terlihat di url sedangkan POST tidak terlihat di url. Tapi framework laravel bagian routing GET dan POST ini mempunyai cara kerja yang berbeda dan yang dimaksud bukan $_GET maupun $_POST kalau dilaravel $_GET dan $_POST ini bisa kita pelajari di bagian basic input di laravel.com contohnya Input::get(‘name’); . Tapi ditutorial ini atau didalam routing laravel GET disini digunakan untuk menampilkan, parsing atau mengirimkan data. Sedangkan POST digunakan untuk menangani sebuah form untuk menerima hasil inputan data.

Di laravel maupun di dunia programming kita pasti mengenal istilah RESTful. RESTful mempunyai beberapa method selain $_GET dan $_POST yaitu PUT/PATCH dan DELETE. Apa itu RESTful, RESTful merupakan sebuah teknik di arsitektur software untuk sistem terdistribusi seperti World Web Wide. Contoh nyata penggunaan Restful itu sendiri seperti kita berkunjung di sebuah web comtohnya saja 4.shared lalu kita bisa login dengan akun facebook.Tapi ditutorial ini kita tidak akan membahas lebih dalam mengenai RESTful.

Di tutorial ini saya tidak akan membahas mengenai method POST, karena method ini akan saya bahas di tutorial form laravel. Sedangkan RESTful akan saya bahas di tutorial membuat crud. Pada Tahap ini kita hanya akan membahas penggunaan GET.

Catatan :  routing dapat didefinisikan atau dituliskan di foder app lalu file routes.php.
GET , method ini dalam laravel biasanya digunakan untuk menampilkan view maupun data. Buka Project yang telah di install, Jika belum install laravel silahkan ikuti tutorial install “Belajar Install Framework Laravel Dengan Composer Maupun Tanpa Composer”. Jika sudah silahkan dibuka projectnya cari file routes.php berada dalam folder app.

 

BELAJAR  BASIC ROUTE

Secara dasar penggunaan dasar route sebagai berikut, silahkan buka file routes.php anda akan menemukan code seperti dibawah ini.

1
2
3
4
Route::get('/', function()
{
            return View::make('hello');
 });

Code diatas silahkan dihapus dan diganti menjadi seperti dibawah ini.

1
2
3
4
Route::get('/',function()
{
            return'Ini Contoh Halaman Home';
});

Route::get adalah method digunakan untuk route dengan method get seperti yang dijelaskan diatas.

Tanda ‘/’, menunjukan route yang di definisikan atau dibuat untuk route utama atau halaman utama contoh seperti belajarlaravel.com  bukan belajarlaravel.com/tutorial-laravel.

return’Ini Contoh Halaman Home’; menunjukan mengembalikan suatu nilai yang berisi “Ini Contoh Halaman Home”.

Untuk cara menjalankan hasil route diatas silahkan ketik url :

1
http://localhost/laravelmaster    atau   http://belajarlaravel.com

Hasilnya menampilkan

laravel1

 

BELAJAR  ROUTE  PARAMETERS

Fungsi route parameters ini adalah mengirimkan sebuah nilai atau parameter ke route atau ke controller. Di route parameters kita dibagi menjadi beberapa bagian :

  1. Basic Route Parameters (Dasar Route Berparameter)
  2. Route Parameters (Route Berparameter Lebih dari Satu)
  3. Optional Route Parameters (Opsional Route Parameter)
  4. Optional Route Parameters With Defaults (Opsional Route Parameter dengan Nilai Default)

 

1. Basic Route Parameters (Dasar Route Berparameter)

Tambahkan code berikut ke file routes.php

1
2
3
4
Route::get('profile/{nama}',function($nama)
{
            return'Profile Nama : '.$nama;
});

profile/{nama} , digunakan untuk definisi / penamaan route / urlnya sedangkan untuk {nama} adalah variable yang dikirimkan atau parameternya.

function($nama) , digunakan untuk menangkap parameter

return’Profile Nama : ‘.$nama; , digunakan untuk Menampilkan kalimat Profile Nama : Sesuai Parameter.

Contoh cara menjalankan ketikan url seperti ini :

1
http://localhost/laravelmaster/profile/AgizYL  atau  http://belajarlaravel.com/profile/AgizYL

Maka yang dihasilkan akan seperti ini :

laravel2

2. Route Parameters (Route Berparameter Lebih dari Satu)

Untuk mengirim parameter lebih dari satu dari contoh dasar route berparameter kita hanya perlu menambahkan /{parameter-baru}. Lebih jelasnya lihat contoh dibawah ini dan bandingkan dengan contoh sebelumnya.

Tambahkan code berikut ini ke routes.php

1
2
3
4
Route::get('profile/{id}/{nama}',function($id, $nama)
{
            return'Profile ID / Nama : '.$id.' / '.$nama;
});

profile/{id}/{nama} , digunakan untuk definisi / penamaan route / urlnya sedangkan untuk {id} adalah variable yang dikirimkan atau parameternya. {nama} adalah parameter kedua.

function($id, $nama) , digunakan untuk menangkap parameter

return’Profile ID / Nama : ‘.$id.’ / ‘.$nama; , digunakan untuk Menampilkan kalimat Profile Nama : Sesuai Parameter Pertama / Sesuai Parameter Kedua .

Coba jalankan dengan perintah / url seperti ini :

1
http://localhost/laravelmaster/profile/1/AgizYL  atau  http://belajarlaravel.com/profile/1/AgizYL

Maka hasilnya menjadi seperti ini

laravel3
3. Optional Route Parameters (Opsional Route Parameter)

Opsional Route Parameter adalah sebuah pilihan jika parameter tidak dicantumkan maka akan diganti dengan null dengan demikian program akan tetap jalan. Contohnya saja silahkan di contoh sebelumnya anda hilangkan parameter apa yang terjadi, program akan error. Sekarang mari kita lihat contoh dari opsional route parameter ini.

1
2
3
4
Route::get('profile/{nama?}', function($nama = null)
{
    return $nama;
});

profile/{nama?} , digunakan untuk define / penamaan route / urlnya, {nama?} artinya jika parameter tidak ditemukan akan diganti null dengan code berikut $nama = null.

return $nama; , mengembalikan nilai parameternya.

Coba jalankan dengan perintah / url seperti ini :

1
http://belajarlaravel.com/profile

maka hasilnya akan blank page / kosong, jika dijalankan seperti ini

1
http://belajarlaravel.com/profile/AgizYL

Maka menghasilkan “Profile Nama : AgizYL”.

4. Optional Route Parameters With Defaults (Opsional Route Parameter dengan Nilai Default)

Opsional Route Parameter dengan Nilai Default ini hampir sama dengan Opsional Route Parameter Cuma perbedaannya hanya kita bisa memberikan nilai default pada suatu parameter jika parameternya tidak ditemukan, contohnya :

1
2
3
4
Route::get('profile/{nama?}', function($nama = 'AgizYL')
{
    return $nama;
});

profile/{nama?} , digunakan untuk define / penamaan route / urlnya, {nama?} artinya jika parameter tidak ditemukan akan diganti null dengan code berikut $nama = ‘AgizYL’.

Coba jalankan dengan perintah / url seperti ini :

1
http://belajarlaravel.com/profile

maka yang ditampilkan “Profile Nama : AgizYL” karena defaultnya AgizYL, jika kita rubah umpama Rudi maka yang dihasilkan “Profile Nama : Rudi”.

 

Itulah dasar route yang perlu diketahui, dan masih banyak yang lain tentang route tapi kita akan pelajari dengan berjalan, maksudnya dengan belajar yang lain. Kalau kita pelajari langsung semua bagi pemula ataupun yang belum pernah tau apa itu route maka akan menjadi bingung.

Catatan : Untuk tes code diatas usaha kan code yang lain didalam routes.php dinonaktifkan dengan memberi komentar pada code terserbut agar tidak bentrok dan lebih tau fungsi yg mana yang sedang berjalan.

Instalasi dan konfigurasi laravel

Posted on Updated on

Instalasi dan Konfigurasi Laravel

Laravel sangat mudah dikonfigurasi untuk mengembangkan sebuah aplikasi. Pada bagian ini akan saya jelaskan apa saja yang harus dipersiapkan untuk memulai menggunakan framework Laravel. Untuk memudahkan pemahaman, saya tidak akan menjelaskan beberapa istilah secara rinci.

Kebutuhan Sistem

Laravel mendukung penggunaa n web server apache dan ngix. Pada buku ini, saya menggunakan web server Apache. Pastikan PHP yang Anda gunakan sudah versi 5.3.7 keatas. Saya sendiri menggunakan MAMP untuk OSX, jika Anda pengguna windows bisa menggunakan XAMPP.

Untuk database Laravel dapat menggunakan database MySQL, PostgreSQL, SQLServer atau SQLite.

Composer

Untuk menginstall laravel kita akan menggunakan composer. Composer adalah aplikasi yang digunakan untuk mengatur package-package dalam mengembangkan sebuah web dengan PHP. Jika dulu, mungkin Anda mengenal yang namanya PEAR, composer tuh mirip-mirip PEAR lah.

Anggaplah kita belum kenal dengan PEAR/Composer. Jika kita akan mengembangkan sebuah aplikasi web dan membutuhkan library untuk user management misalnya ‘UserAuth’ maka kita akan download dari webnya, letakkan di folder tertentu (misalnya library), kemudian me-load dengan require atau include pada class yang kita butuhkan.

Setidaknya ada beberapa masalah dari solusi ini:

  • Bagaimana jika web kita membutuhkan tidak hanya satu library, tapi 40 library? Mau download satu-persatu?
  • Bagaimana jika library UserAuth bergantung dengan library lain? misalnya SessionManager dan SessionManager juga bergantung kepada library Session. Dan seterusnya, dan seterusnya..

Pada Laravel, kita akan menggunakan composer tidak hanya untuk menginstall library, tapi framework Laravel itu sendiri diinstall menggunakan composer.

Untuk memahami composer lebih lanjut, Anda dapat mengunjungi dokumentasi resmi composer.

Install Composer

Instalasi composer agak berbeda untuk OS *nix (Linux, OSX, dll) dan Windows, saya jelaskan masing-masing:

Windows

Cukup download composer-setup.exe dan jalankan file instalasi.

*nix

Jalankan terminal dan masukkan perintah berikut:

$ curl -sS https://getcomposer.org/installer | php
$ sudo mv composer.phar /usr/local/bin/composer

Penggunaan Composer

Secara default, composer akan menggunakan package yang teregister di packagist.org. Tentunya, kita juga dapat menyiapkan repositori package private menggunakan satis.

Packagist.org

Composer menggunakan file dengan format JSON. JSON merupakan format standar untuk menyimpan data name=>value yang sudah sangat umum digunakan untuk transfer data. Contoh syntax JSON terlihat seperti ini:

{title=”contoh struktur JSON”, lang=”javascript”, lineos=on}

{
    name1 : {
        subname1 : value,
        subname2 : value
    },
    name2 : value
}

Composer menggunakan format json ini pada file bernama composer.json. Berikut contoh isi composer.json :

{title=”composer.json”, lang=”javascript”, lineos=on}

{
    "require": {
        "monolog/monolog": "1.0.*"
    }
}

Sebagaimana terlihat pada syntax diatas, pada bagian require kita masukkan nama package yang kita butuhkan (monolog/monolog) dan versi yang diinginkan (1.0.*).

Install Package

Untuk menginstall package dengan composer, pindahkan file composer.json diatas ke sebuah folder. Lalu jalankan perintah berikut di dalam folder tersebut:

$ composer install

composer install

Perintah diatas akan melakukan instalasi package aplikasi yang kita tulis di bagian require. Setelah dieksekusi strutur folder kita akan berubah:

composer structure

Folder vendor menyimpan package yang dibutuhkan, sebagaimana yang ditulis di bagian require File vendor/autoload.php dapat digunakan untuk mendapatkan fitur autoloading. File composer.lock berfungsi mencatat versi package yang saat ini sedang kita gunakan, jangan hapus/edit file ini, karena perintah composer install bergantung pada file ini.

Update package

Jika package baru telah ditambah pada bagian require atau versi package yang digunakan dirubah, gunakan perintah ini untuk memperbaharui package yang kita gunakan:

$ composer update

Perintah composer lainnya dapat dilihat dengan perintah :

$ composer --help

Atau cek di manual composer.

Instalasi Laravel

Sebagaimana disampaikan di bagian sebelumnya, Laravel diinstall menggunakan composer. Gunakan perintah ini untuk membuat project laravel di folder webapp:

$ composer create-project laravel/laravel --prefer-dist webapp

install laravel part 1

install laravel part 2

Perintah ini akan menginstall framework laravel dan dependency packagenya.

laravel structure

Jika Anda menggunakan OS *nix, instalasi laravel dapat pula dilakukan dengan menggunakan laravel.phar, caranya:

  1. Download Laravel phar{linenos=off}
    $ wget http://laravel.com/laravel.phar
    
  2. Rename file yang telah didownload menjadi laravel{linenos=off}
    $ mv laravel.phar laravel
    
  3. Pindahkan file tersebut ke /usr/local/bin/:{linenos=off}
    $ sudo mv laravel /usr/local/bin/
    
  4. Untuk membuat project laravel, jalan perintah :{linenos=off}
    $ laravel new webapp
    

Konfigurasi

Setelah Laravel terinstall pastikan folder app/storage dapat diakses oleh web server. Cara sederhananya, jalankan perintah ini:

{linenos=off}

$ sudo chmod -R 777 app/storage

Jangan lupa isi juga konfigurasi database Anda (nama database, username, password) di app/config/database.php. Tentunya database harus Anda buat sendiri di aplikasi database yang Anda gunakan.

Menjalankan Web Server

Web yang dikembangkan dengan Laravel dapat diakses menggunakan PHP builtin web server atau virtual host.

PHP builtin web server

Jalankan perintah berikut di folder webapp:

{linenos=off}

$ php artisan serve

Setelah Anda menjalankan perintah diatas, aplikasi laravel dapat diakses di http://localhost:8000. Kekurangan dari PHP Builtin web server adalah ketika terjadi perubahan pada source code, terkadang server harus di restart.

Virtual Host

Menggunakan virtual host, aplikasi dapat diakses dengan url seperti http://webapp.site, http://www.webapp.com, dan sebagainya walupun masih berada di lokal. Saya sendiri lebih sering menggunakan virtualhost ketika mengembangkan web dengan Laravel. Berikut cara membuat virtual host:

MAMP

  1. Menggunakan MAMP Pro, buka menu Hosts
  2. Klik tombol [+]
  3. Isi bagian Server name dengan url yang kita inginkan
  4. Isi Disk Location dengan alamat folder public di webapp
  5. Klik Apply
  6. Klik Start untuk merestart server apache.

Setup VirtualHost di MAMP PRO

XAMPP

  1. Buka file hosts yang ada di alamat C:\WINDOWS\system32\drivers\etc\hosts
  2. Di bagian paling bawah tambahkan alamat IP Address localhost 127.0.0.1 dan nama domain yang dibuat misalnya webapp.site{title=”C:\WINDOWS\system32\drivers\etc\hosts”, linenos=on}
    ....
    127.0.0.1    webapp.site
    ....
    
  3. Buka file httpd.conf yang ada di alamat C:\xampp\apache\conf\httpd.conf
  4. Cari bagian Directory, jika aplikasi kita berada di C:/xampp/htdocs/webapp isi seperti ini{title=”C:\xampp\apache\conf\httpd.conf”, linenos=on}
    <Directory "C:/xampp/htdocs/webapp/public">
      Options Indexes FollowSymLinks Includes ExecCGI
      AllowOverride All
      Order allow,deny
      Allow from all
      Require all granted
    </Directory>
    
  5. Buka file httpd-vhosts.conf yang ada di alamat C:\xampp\apache\conf\extra
  6. Tambahkan setingan di bawah ini untuk membedakan website yang dipanggil dengan localhost dan website yang dipanggil dengan virtual host{title=”C:\xampp\apache\conf\extra\httpd-vhosts.conf”, lineos=on}
    NameVirtualHost *:80
    
    #VirtualHost untuk webapp.site
    
    <VirtualHost *:80>
      DocumentRoot C:/xampp/htdocs/webapp/public
      ServerName webapp.site
    </VirtualHost>
    
    #Untuk localhost yang biasa
    
    <VirtualHost *:80>
      DocumentRoot C:/xampp/htdocs
      ServerName localhost
    </VirtualHost>
    
  7. Restart Apache pada XAMPP Control Panel dengan klik tombol stop kemudian klik tombol start.

Setelah berhasil, Anda dapat mengakses aplikasi di http://webapp.site.

Berhasil setup virtualhost

Ringkasan

1. Saya harap Anda telah dapat memahami:

  • Penggunaan composer untuk development php modern
  • Instalasi laravel
  • Konfigurasi virtualhost

2. Jika belum bisa maka download file zip berikut, kemudian ektrak. copy kan file tersebut ke folder utama server. seperti c:/xampp/htdocs/laravelmaster/ <— dengan asumsi VPS dgn domain laravelmaster.com berlokasi disana

link : http://www.4shared.com/zip/e-xtT2pEce/laravelmaste20141107r.html

Pilih Aplikasi ERP Web-Based atau Desktop?

Posted on Updated on

Tahukah rekan-rekan mengenai ERP “Enterprise Resource Planning”? Atau mungkin pernah mendengarnya? ERP merupakah suatu aplikasi/software yang dapat mengintegrasikan semua fungsional bisnis perusahaan dari hulu ke hilir. Fungsional bisnis yang saya maksud adalah sistem yang terkait dengan fungsi Sales, Marketing, HRM, Finance, Production/Operation, Accounting, Inventory dan masih banyak fungsional bisnis lainnya.

Katakanlah anda adalah seorang Manajer HRD yang bertanggung jawab untuk mengatur proses rekrutmen, mengelola SDM, mengatur cuti, payroll, memberi training, dan lainnya. Perusahaan anda ternyata mengalami pertumbuhan, karyawan semakin bertambah. Pekerjaan anda semakin banyak yang belum terselesaikan dan sering terjadi duplikasi data. Maka anda harus keluar dari permasalahan ini. Kemudian anda mencari sistem yang lebih baik. ERP ini lah salah satu yang membantu pekerjaan anda.

Setelah mencari beberapa referensi, aplikasi ERP dapat diimplementasikan dengan 2 cara-yaitu melalui web-based maupun desktop. Apa perbedaan nya? ERP berbasis web-based adalah customer tidak perlu menginstal aplikasi tersebut ke dalam komputer. Customer dapat menggunakannya langsung melalui web browser. Web browser yang dapat digunakan adalah google chrome, Mozilla firefox, internet explore dan lainnya. Dikarenakan menggunakan web browser, maka customer memerlukan koneksi internet untuk mengakses aplikasi tersebut. Customer dapat memilih Internet Service Provider (ISP) apa saja.

Sedangkan ERP berbasis desktop adalah customer harus terlebih dahulu menginstal aplikasi ke dalam komputer sehingga dapat digunakan. Setiap user desktop akan diinstal aplikasi dan antara user satu dengan yang lain masih bersifat independen, belum bisa terintegrasi secara langsung.

Jadi pilih aplikasi ERP web-based atau desktop? Berikut informasi yang dapat saya jelaskan mengapa customer memilih aplikasi ERP berbasis web ataupun desktop.

1

2

Seiring  Perkembangan teknologi cloud computing yang semakin maju dan fasilitas internet yang semakin baik, maka saya lebih menyarankan perusahaan-perusahaan menggunakan ERP web based. ERP web-based memungkinkan modul satu dengan modul lainnya saling terintegrasi, lebih mobile, dapat diakses kapan saja dan dimana saja, user friendly, mudah digunakan dan simple.

Jadi pilih aplikasi ERP web-based atau desktop? Semoga rekan-rekan tidak “dilemma” dalam mengambil keputusan.

Perbedaan Web Base dan Dekstop Base

Posted on

Berikut sedikit penjelasan tentang Web Base dan Desktop Base:

Web Base

Pengertian aplikasi web based adalah suatu aplikasi yang dapat berjalan dengan menggunakan basis teknologi web atau browser. Aplikasi ini dapat diakses dimana saja asalkan ada koneksi internet yang mendukung, tanpa perlu melakukan penginstalan di komputer masing-masing seperti pada aplikasi desktop, cukup dengan membuka browser dan menuju tempat server aplikasi tersebut dipasang. Contohnya: Google spreadsheet, Google Word Processor, webmessenger.yahoo.com, meebo.com, dan game flash yang dijalankan secara online, dan yang lain.

Aplikasi ini dapat diakses dimana saja asalkan ada koneksi internet yang mendukung, tanpa perlu melakukan penginstalan di komputer masing-masing seperti pada aplikasi desktop, cukup dengan membuka browser dan menuju tempat server aplikasi tersebut dipasang. Keunggulan web based application dibanding desktop based application adalah, terkait dengan keunggulan-keunggulan dari Internet itu sendiri.

Misalnya :

  1. Kita dapat menjalankan aplikasi berbasis web di manapun kapan pun tanpa harus melakukan penginstalan.
  2. Terkait dengan isu lisensi (hak cipta), kita tidak memerlukan lisensi ketika menggunakan web-based application, sebab lisensi itu telah menjadi tanggung jawab dari web penyedia aplikasi. (seperti misalnya saat menggunakan MS-Office versi Google).
  3. Mirip dengan poin satu. Bayangkan ketika kita disuruh untuk mengedit sebuah foto, namun kita tidak memiliki satu pun aplikasi pengedit foto yang tersedia di PC kita. Yah, tidak perlu bersusah payah untuk mencarinya, tinggal akses saja sebuah alamat di Internet, maka kita dapat mengedit foto tanpa harus memiliki aplikasi pengeditnya.
  4. Dapat dijalankan di sistem operasi mana pun. Tidak perduli apakah kita menggunakan Linux, Windows, aplikasi berbasis web dapat dijalankan asalkan kita memiliki browser dan akses Internet.
  5. Dapat diakses lewat banyak media seperti : komputer, handheld dan handphone yang sudah sesuai dengan standar WAP.
  6. Tidak perlu spesifikasi komputer yang tinggi untuk menggunakan aplikasi berbasis web ini, sebab di beberapa kasus, sebagian besar proses dilakukan di web server penyedia aplikasi berbasis web ini.
  7. Kekurangan web based application tentu saja harus adanya ketersediaan koneksi Internet.

 

Dekstop Base

Desktop based application adalah suatu aplikasi yang dapat berjalan sendiri atau independen tanpa menggunakan browser atau koneksi Internet di suatu komputer otonom, dengan operating system atau flatfom tertentu. Contoh: Microsoft Office Word 2007 dan aplikasi office lainnya, Windows Media Player, dll.

Keunggulan desktop based application dibandingkan dengan web based application adalah

  1. Dapat berjalan dengan independen, tanpa perlu menggunakan browser.
  2. Tidak perlu koneksi Internet, karena semua file yang diperlukan untuk menjalankan aplikasinya sudah terinstall sebelumnya.
  3. Dapat dengan mudah memodifikasi settingannya.
  4. Prosesnya lebih cepat.

Kekurangan dari desktop based application:

  1. Kalau ingin menggunakan aplikasi tsb, harus diinstall dulu.
  2. Bermasalah dengan lisensi.
  3. Tidak bisa dibuka di computer lain, jika belum diinstall.
  4. Biasanya memerlukan hardware dengan spesifikasi tinggi.

Perbandingan sebagai berikut :

1. Installation

Aplikasi web based tidak memerlukan proses penginstalan software pada komputer klien, instalasi cukup di server saja. Berbeda dengan aplikasi desktop yang harus di-install pada masing-masing komputer client yang ingin menggunakannya.

2. Maintenance

Aplikasi web based bersifat terpusat, jadi setiap perubahan kode program dilakukan di server. Aplikasi desktop bersifat terdistribusi, jadi setiap perubahan kode program harus didistribusikan juga di semua komputer client.

3. Platform

Aplikasi web based dapat dijalankan di sistem operasi mana pun. Tidak perduli apakah kita menggunakan Linux, Windows, aplikasi berbasis web dapat dijalankan asalkan kita memiliki browser dan akses Internet. Berbeda dengan aplikasi desktop yang mengharuskan aplikasi di-install dan dijalankan di sistem operasi tertentu.

4. Performance

Aplikasi web based dikarenakan hampir semua proses dikerjakan di server dan data dikirimkan melalui jaringan akan terasa relatif lebih lambat dibandingkan dengan aplikasi desktop yang prosesnya dikerjakan di komputer client sendiri.

5. Availability

Aplikasi web based dapat digunakan hanya dengan syarat ketersediaan browser dan akses internet praktis membuatnya bersifat multi-platform dapat diakses dari sistem operasi mana pun dan dari perangkat mana pun. Berbeda dengan aplikasi desktop yang syarat ketersediaannya adalah terinstallnya aplikasi tersebut di masing komputer client.

6. Resource

Aplikasi web based karena berjalan di server, berarti hanya dapat menggunakan sumber daya yang ada di komputer tersebut. Berbeda dengan aplikasi desktop yang lebih leluasa mengakses sumber daya yang ada di komputer client, sehingga aplikasi desktop memiliki nilai lebih untuk aplikasi yang melibatkan penggunaan hardware komputer.

Perbedaan web based application dengan desktop based application yaitu: web based berjalan menggunakan basis teknologi web (Internet) atau browser sedangkan based application dapat berjalan sendiri atau independen tidak menggunakan browser dan biasanya telah ditentukan dapat berjalan di flatform atau operating system tertentu, tetapi ada juga yang cross flatform.